Raperda Sumbangan Dana Pendidikan, Ombudsman NTB: Bisa Berupa Uang, Barang, dan Jasa

Avatar photo

Selasa, 14 Juli 2026 - 08:07 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi

Ilustrasi

MATARAM, ntbkita.com-Ombudsman Perwakilan Nusa Tenggara Barat dan DPRD NTB sepakat memperkuat substansi Rancangan Peraturan Daerah tentang Sumbangan Dana Pendidikan. Ranperda itu akan menjadi instrumen untuk mencegah praktik pungutan liar di lingkungan sekolah.

Kepala Ombudsman NTB Dwi Sudarsono meminta Ranperda mengatur prosedur penghimpunan sumbangan secara terperinci. Aturan itu perlu memberikan pedoman yang jelas kepada komite sekolah dalam mengelola bantuan masyarakat.

“Prinsipnya kami setuju akan adanya Ranperda ini. Mengingat minimnya kemampuan fiskal daerah, kami meminta substansi objek sumber penyumbang diperluas, tidak hanya orang tua atau wali murid, tetapi juga organisasi dan pemangku kepentingan lainnya,” ujarnya saat berdiskusi bersama Komisi V dan Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD NTB di Mataram, Senin (13/7).

Perluas Sumber dan Bentuk Sumbangan

Dwi merujuk Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah. Regulasi itu menyebut sumbangan dapat berbentuk uang, barang, maupun jasa.

Namun, Ranperda inisiatif DPRD NTB baru mengatur sumbangan berupa uang dari orang tua atau wali murid. Padahal, perseorangan, organisasi, dunia usaha, dunia industri, dan pemangku kepentingan lain juga dapat memberikan sumbangan.

Baca Juga :  Cerita Buruh Tani Ahmadi dan Harapan untuk Anaknya di Sekolah Rakyat Lombok Utara

“Catatan kami, jika mengacu pada Permendikbud, Ranperda ini harus dibahas secara detail karena menyangkut pengelolaan sumbangan. Komite sekolah juga perlu diberi keleluasaan menggalang dan mengelola sumbangan, termasuk dalam bentuk barang dan jasa,” katanya.

Dwi juga meminta Ranperda mengatur mekanisme penghimpunan sumbangan pada seluruh satuan pendidikan. Aturan itu perlu mencakup sekolah milik pemerintah daerah maupun masyarakat.

Ia mengusulkan Peraturan Gubernur mengatur lebih lanjut ketentuan teknis penghimpunan, pengelolaan, dan penggunaan sumbangan.

Sumbangan Harus Sukarela

Dwi menegaskan seluruh sumbangan harus bersifat sukarela. Sekolah tidak boleh menjadikan sumbangan sebagai syarat bagi peserta didik untuk memperoleh rapor, mengikuti ujian, atau menerima ijazah.

“Prinsip pentingnya, sumbangan bersifat sukarela. Sekolah tidak boleh memaksa peserta didik atau orang tua menyumbang ataupun memberikan sanksi akademik karena tidak membayar,” ujarnya.

Baca Juga :  Raperda Pinjol Ilegal dan Judi Online NTB Dibahas Komisi I, Diharapkan Sah 2026

Aturan yang jelas juga akan membedakan sumbangan dengan pungutan. Sekolah dan komite harus mengelola setiap sumbangan secara transparan.

DPRD Siap Tampung Masukan

Ketua Bapemperda DPRD NTB Ali Alkhaery menyatakan pihaknya siap menampung masukan Ombudsman. Masukan itu akan memperkuat pembahasan Ranperda Sumbangan Dana Pendidikan.

“Kami bersyukur karena ada kesamaan pandangan dalam menjadikan Ranperda ini sebagai instrumen untuk memastikan layanan pendidikan tetap terjaga, terutama agar anak-anak memperoleh pendidikan yang setara,” katanya.

Ali mengatakan DPRD NTB merancang Ranperda untuk mencegah praktik pungutan liar di lingkungan sekolah. Aturan itu juga akan mengatur mekanisme sumbangan pihak ketiga secara transparan.

Ranperda tidak membedakan sekolah negeri dan swasta. Menurut Ali, negara memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kedua jenis sekolah itu.

DPRD NTB berharap pembahasan Ranperda segera selesai. Setelah itu, DPRD dan pemerintah daerah dapat menetapkannya sebagai peraturan daerah.

Follow WhatsApp Channel ntbkita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cerita Buruh Tani Ahmadi dan Harapan untuk Anaknya di Sekolah Rakyat Lombok Utara
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani Minta APBN Prioritaskan Pendidikan di Daerah 3T
Gubernur NTB Buka MPLS Sekolah Rakyat Lombok Utara, 595 Siswa Mulai Pendidikan Gratis
114 Siswa Lombok Barat Berangkat ke Sekolah Rakyat di Lombok Utara, Siap Jalani MPLS
Pemkab Dompu Pacu Izin Lahan 8 Hektare Milik Pemprov NTB Demi Sekolah Rakyat
Jawab Masalah 7.000 Anak Putus Sekolah, Lombok Barat Siapkan Sekolah Rakyat 8,6 Hektare
Putus Rantai Kemiskinan Ekstrem, Pemkab Sumbawa Gratiskan Penuh Siswa Sekolah Rakyat Berasrama
Unram–Massey University Perluas Kerja Sama, Siapkan Riset Pangan dan Joint Master

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 19:37 WITA

Cerita Buruh Tani Ahmadi dan Harapan untuk Anaknya di Sekolah Rakyat Lombok Utara

Selasa, 3 November 2026 - 14:03 WITA

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani Minta APBN Prioritaskan Pendidikan di Daerah 3T

Selasa, 3 November 2026 - 09:34 WITA

Gubernur NTB Buka MPLS Sekolah Rakyat Lombok Utara, 595 Siswa Mulai Pendidikan Gratis

Senin, 2 November 2026 - 15:37 WITA

114 Siswa Lombok Barat Berangkat ke Sekolah Rakyat di Lombok Utara, Siap Jalani MPLS

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:12 WITA

Pemkab Dompu Pacu Izin Lahan 8 Hektare Milik Pemprov NTB Demi Sekolah Rakyat

Berita Terbaru