Gubernur Iqbal Ingin Udang NTB Diproses dan Diekspor dari Daerah Sendiri

Avatar photo

Sabtu, 20 Juni 2026 - 06:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Hilirisasi tambak udang. (humas pemprov ntb)

Hilirisasi tambak udang. (humas pemprov ntb)

MATARAM, ntbkita.com-Pemerintah Provinsi NTB bersama pelaku usaha dan Shrimp Club Indonesia (SCI) Wilayah Lombok membahas hilirisasi industri tambak udang di NTB. Forum itu berlangsung di Hotel Aston Inn Mataram, Jumat (19/6).

Kegiatan ini memperkuat sinergi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan. Fokusnya mendorong pengembangan industri udang berbasis hilirisasi, peningkatan investasi, dan penguatan daya saing sektor kelautan dan perikanan di NTB.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan iklim investasi yang ramah dan berkelanjutan. Pemerintah juga ingin menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan.

“Jangan ragukan komitmen kami untuk mendorong industri perikanan di daerah kami, karena kami ingin menjadi provinsi yang investor friendly. Kami sadar teman-teman berbisnis bukan untuk sosial, tetapi kami ingin teman-teman untung, masyarakat senang, dan lingkungan tetap terjaga,” ujar Gubernur Iqbal.

Tambak Harus Berdampingan dengan Pariwisata

Gubernur Iqbal menekankan pentingnya keberlanjutan industri udang. Menurutnya, perlindungan lingkungan harus menjadi fondasi utama.

“Supaya bisnis ini sustainable, kami juga butuh sustainability. Kita tidak ingin dapat uang sekarang, tapi besok semua mati karena lingkungan rusak. Kita ingin tambak bisa berdampingan dengan pariwisata,” tegasnya.

Ia juga memastikan komitmen pemerintah dalam menyederhanakan regulasi dan menjaga stabilitas kebijakan.

Baca Juga :  Pertamax Naik, Bagaimana Harga BBM Indonesia Dibanding Negara Tetangga?

“Saya bisa berikan jaminan empat tahun ke depan kami tidak akan membuat regulasi yang tidak ramah investor di tingkat provinsi,” katanya.

Gubernur Iqbal juga menyoroti pentingnya hilirisasi dan penguatan rantai nilai di daerah. Ia ingin hasil perikanan diproses dan diekspor dari NTB, sehingga nilai tambah dan penerimaan daerah ikut meningkat.

Siapkan FS dan DED Hilirisasi Udang

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim menjelaskan, pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat investasi sektor perikanan. Kebijakan itu mencakup regulasi dan fasilitas pendukung.

“Penyusunan perda ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden terkait pentingnya hilirisasi sebagai agenda strategis nasional,” ujarnya.

Muslim mengatakan, Dislutkan NTB juga telah menyiapkan FS (Feasibility Study) dan DED (Detail Engineering Design) untuk hilirisasi udang. Pemerintah juga siap memfasilitasi lahan, termasuk potensi 100 hektare di kawasan Bandara Internasional Lombok.

Ia menambahkan, percepatan perizinan menjadi prioritas. Dislutkan NTB akan membentuk tim terpadu untuk mempercepat proses perizinan investasi.

SCI Dorong Nilai Tambah Berputar di Daerah

Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) Andi Tamsil menegaskan, hilirisasi menjadi kunci agar sektor udang memberi manfaat ekonomi lebih besar bagi daerah.

“Selama ini kontribusi sektor udang masih belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal di daerah. Karena itu, kita perlu mendorong agar manfaat ekonomi tetap berputar di daerah,” ujarnya.

Baca Juga :  Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Harga BBM Pertamina di NTB

Andi juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi dan kualitas input produksi. Menurutnya, kepastian keamanan dan kenyamanan berusaha jauh lebih penting dibanding subsidi berlebihan.

Ia juga menekankan pentingnya standar internasional dalam produksi. Benur harus bersertifikat bebas penyakit. Penggunaan antibiotik terlarang juga harus dihindari agar produk udang NTB bisa diterima pasar global.

Hadapi Tantangan Pasar Global

Ketua SCI Wilayah Lombok Suryadi Adinata menyampaikan, sektor udang menghadapi tantangan kompleks. Tantangan itu muncul dari sisi produksi hingga pasar global.

“Budidaya tambak udang menghadapi tantangan regulasi, risiko gagal panen, hingga isu global seperti tarif antidumping dan standar internasional,” ujarnya.

Suryadi menekankan pentingnya hilirisasi industri udang di NTB. Ia juga menilai penyederhanaan perizinan, iklim investasi yang kondusif, dan peningkatan nilai tambah menjadi kebutuhan penting bagi industri tambak udang.

Forum ini menegaskan hilirisasi industri tambak udang sebagai strategi utama mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Strategi itu juga menyasar peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya saing NTB di pasar global dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.

Follow WhatsApp Channel ntbkita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Usaha Cilok hingga Online Shop di Lombok Tengah Masuk Sensus Ekonomi
Minyakita Rp 15.500 per Liter Diserbu Warga Pakuan
Bulog NTB Salurkan 15.390 Ton Beras Bantuan Pangan
Bank NTB Syariah Kembali Salurkan KUR Rp 40 Miliar
Kriya dan Wastra NTB Masuk Etalase UNIQLO
658 Ribu Usaha Jadi Peta Baru Ekonomi NTB
Miq Iqbal Tawarkan Investasi Hijau NTB ke Oman
Pemprov NTB Putihkan Tunggakan PKB di Atas Lima Tahun

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 13:25 WITA

Usaha Cilok hingga Online Shop di Lombok Tengah Masuk Sensus Ekonomi

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:14 WITA

Minyakita Rp 15.500 per Liter Diserbu Warga Pakuan

Minggu, 21 Juni 2026 - 07:08 WITA

Bulog NTB Salurkan 15.390 Ton Beras Bantuan Pangan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:48 WITA

Bank NTB Syariah Kembali Salurkan KUR Rp 40 Miliar

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:39 WITA

Kriya dan Wastra NTB Masuk Etalase UNIQLO

Berita Terbaru

Hukum

535 Gram Sabu Gagal Beredar di Bima

Selasa, 23 Jun 2026 - 19:49 WITA

Kemenangan Jepang atas Tunisia di Piala Dunia 2026.

Olahraga

Jepang Mengamuk, Tunisia Dibantai di Laga Bersejarah Piala Dunia

Minggu, 21 Jun 2026 - 14:19 WITA

Ilustrasi

Pariwisata

Sampah Pendakian Gunung Rinjani Diurus Bareng Warga

Minggu, 21 Jun 2026 - 11:17 WITA