LOMBOK UTARA, ntbkita.com-Sekolah Rakyat Lombok Utara menghadirkan harapan bagi keluarga kurang mampu yang ingin memberikan pendidikan lebih baik kepada anak-anak mereka. Ahmadi, seorang buruh tani asal Tanjung, Lombok Utara, dan Lailatul Huda, warga Mataram yang mengasuh dua adiknya setelah kehilangan orang tua, melihat program pendidikan gratis ini sebagai kesempatan untuk memperjuangkan masa depan keluarga.
Keduanya menceritakan harapan itu saat Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Lombok Utara menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (2/11/2026).
Sekolah ini menerima 595 siswa dari keluarga kurang mampu di berbagai daerah NTB. Para siswa mengikuti pendidikan jenjang SD, SMP, dan SMA dengan sistem berasrama.
Bagi Ahmadi, kesempatan memperoleh pendidikan gratis memiliki arti penting. Sebagai buruh tani, ia harus mempertimbangkan keterbatasan penghasilan ketika memikirkan biaya pendidikan anak.
Karena itu, ia menyambut kehadiran Sekolah Rakyat yang memberikan layanan pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan siswa selama tinggal di asrama.
“Iya, karena di sini sangat membantu sekali, terutama bagi kita golongan yang golongan bawah. Kita sangat membutuhkan ini yang gratis ini. Itu yang kita harapkan,” kata Ahmadi.
Buruh Tani Berharap Anak Bisa Sekolah Tanpa Biaya
Ahmadi mengaku bersyukur pemerintah menyediakan pendidikan berasrama secara gratis bagi keluarga kurang mampu.
Menurutnya, biaya pendidikan menjadi salah satu persoalan yang harus keluarga dengan penghasilan terbatas hadapi. Kehadiran Sekolah Rakyat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan tanpa membebani keuangan keluarga.
“Karena gratis itu, Pak. Karena gratis itulah makanya, cocok bagi kita yang kurang-kurang mampulah, golongan bawah kan,” ujarnya.
Ahmadi berharap anaknya dapat menyelesaikan pendidikan hingga tuntas. Ia juga menginginkan lebih banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan mengikuti program yang sama.
Namun, menurut Ahmadi, tidak semua keluarga yang berminat dapat mengakses Sekolah Rakyat. Ia menyebut masih ada kendala yang berkaitan dengan cakupan wilayah penerimaan.
“Banyak yang mau, tapi karena desanya yang tidak mendukung, akhirnya tidak bisa. Banyak juga, termasuk anak saya juga mau ke sini kan. Tapi desanya terlalu besar, belum dibuka,” tuturnya.
Lailatul Huda Berjuang Menyekolahkan Dua Adiknya
Harapan serupa datang dari Lailatul Huda, wali siswa asal Seganteng, Mataram. Ia mengambil tanggung jawab mengasuh dua adiknya setelah mereka kehilangan orang tua.
Lailatul ingin memastikan kedua adiknya tetap memperoleh pendidikan meskipun tidak lagi memiliki orang tua yang mendampingi mereka.
Karena itu, ia memilih Sekolah Rakyat sebagai tempat bagi kedua adiknya untuk melanjutkan pendidikan. Sistem sekolah berasrama dan fasilitas gratis menjadi pertimbangan penting baginya.
“Ya, karena di sini kan bisa ditanggung semuanya, dari sekolahnya sampai dia bisa mencapai cita-citanya,” kata Lailatul.
Selain memikirkan kebutuhan pendidikan, Lailatul juga berusaha memberikan dukungan emosional agar kedua adiknya tetap memiliki semangat belajar.
Ia menyadari tanggung jawabnya kini tidak hanya mengurus kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membantu kedua adiknya mempersiapkan masa depan.
“Karena orang tua sudah enggak ada kan mbaknya kan yang menjadi penanggung jawab, bisa untuk adik-adiklah, dimotivasi mereka,” ujarnya.
Lailatul tidak menyampaikan harapan yang rumit. Ia hanya ingin kedua adiknya menyelesaikan pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih baik.
“Semoga menjadi orang sukses,” tambahnya.
Solehah Terharu, Mirnawati Bercita-cita Jadi Apoteker
Di antara ratusan siswa yang mulai mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat Lombok Utara, Solehah mengaku senang sekaligus terharu.
Siswa kelas satu SMA asal Gubuk Pande, Seganteng, Mataram, itu berasal dari keluarga dengan delapan bersaudara. Ia dan salah satu adiknya memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah yang sama.
Bagi Solehah, pendidikan gratis memberikan peluang untuk melanjutkan sekolah tanpa harus menghadapi beban biaya pendidikan.
“Terharu,” kata Solehah ketika menceritakan perasaannya.
Sementara itu, Mirnawati, siswi asal Desa Pengkelakmas, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, juga menyampaikan kegembiraannya.
Sebelumnya, Mirnawati menempuh pendidikan di MTs NW Pengkelamas. Ia kemudian memperoleh kesempatan masuk Sekolah Rakyat melalui usulan dari desa.
Mirnawati sudah memiliki cita-cita yang ingin ia wujudkan melalui pendidikan. Ia berharap kesempatan bersekolah secara gratis dapat membantunya melanjutkan pendidikan hingga meraih impiannya.
“Saya mau jadi apoteker,” ucapnya.
Sekolah Rakyat Menampung 595 Siswa dari Berbagai Daerah
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal membuka kegiatan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Lombok Utara pada Senin (2/11/2026).
Sekolah ini berlokasi di Dusun Amor-Amor, Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.
Pemerintah pusat menjalankan program Sekolah Rakyat melalui Kementerian Sosial. Program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.
Melalui sistem pendidikan berasrama, pemerintah menanggung kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari siswa selama mereka menempuh pendidikan.
Selain pembelajaran akademik, program ini mencakup pengasuhan, pendampingan, dan pembinaan karakter.
Bagi Ahmadi, Lailatul, Solehah, dan Mirnawati, kesempatan mengikuti pendidikan melalui Sekolah Rakyat membawa harapan masing-masing.
Ahmadi menginginkan pendidikan yang tidak membebani keuangan keluarga. Lailatul berharap kedua adiknya mampu meraih kesuksesan, sementara Solehah dan Mirnawati mulai menjalani pendidikan untuk mengejar cita-cita mereka.










Komentar