Ekspor NTB Melonjak 244,23 Persen, Tembus US$2,07 Miliar hingga September 2026

Avatar photo

Selasa, 3 November 2026 - 09:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BPS NTB

BPS NTB

MATARAM, ntbkita.com-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang Januari–September 2026 mencapai sekitar US$2,07 miliar atau melonjak 244,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ekspor ini berlangsung bersamaan dengan penguatan Nilai Tukar Petani (NTP) dan proyeksi peningkatan produksi padi serta jagung di NTB.

Kepala BPS Provinsi NTB Dr. Drs. Wahyudin, M.M., memaparkan perkembangan berbagai indikator ekonomi daerah dalam rilis Berita Resmi Statistik di Aula Tambora, Kantor BPS NTB, Senin (2/11/2026).

Khusus September 2026, nilai ekspor NTB mencapai US$382,77 juta atau meningkat 119,36 persen dibandingkan September 2025.

Komoditas perhiasan dan permata menyumbang nilai ekspor terbesar pada September, yakni sekitar US$221,17 juta atau 57,78 persen. Selanjutnya, komoditas tembaga menyumbang sekitar US$154,58 juta atau 40,39 persen.

Selain kedua komoditas itu, NTB juga mengekspor buah-buahan, ikan dan udang, serta kendaraan dan bagiannya.

Dari sisi negara tujuan, Swiss menjadi pasar ekspor terbesar dengan kontribusi 26,68 persen. Uni Emirat Arab menyusul dengan 18,84 persen, kemudian Thailand 12,67 persen, Hong Kong 11,72 persen, dan Tiongkok 11,12 persen.

Sementara itu, nilai impor NTB sepanjang Januari–September 2026 mencapai sekitar US$57,58 juta. Khusus September, BPS mencatat impor sebesar US$8,90 juta.

Komoditas impor antara lain mencakup karet dan barang dari karet, mesin serta peralatan mekanis, dan sejumlah produk industri lainnya.

Nilai Tukar Petani NTB Naik Jadi 130,66

Selain perdagangan luar negeri, BPS melaporkan penguatan Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Oktober 2026.

NTP mencapai 130,66 atau meningkat 1,57 persen dibandingkan September. Kenaikan ini mencerminkan perbaikan daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang petani beli, baik untuk konsumsi maupun kebutuhan produksi.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Instruksikan Persiapan E50, Pemerintah Perkuat Kemandirian Energi

BPS mencatat indeks harga yang petani terima (It) naik 1,45 persen. Sebaliknya, indeks harga yang petani bayar (Ib) turun 0,12 persen.

Seluruh subsektor pertanian di NTB mencatat NTP di atas 100. Subsektor hortikultura memiliki indeks tertinggi sebesar 182,32, kemudian tanaman pangan 129,29 dan peternakan 117,50.

Sementara itu, subsektor perkebunan rakyat mencapai 112,63 dan perikanan 112,20.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) mencapai 134,41 atau meningkat 1,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski NTP mengalami kenaikan, indikator ini tidak secara langsung menggambarkan pemerataan kesejahteraan seluruh petani. NTP mengukur perubahan daya tukar hasil pertanian terhadap kebutuhan konsumsi dan biaya produksi.

Produksi Padi NTB Berpotensi Capai 1,73 Juta Ton

Perkembangan sektor pertanian juga terlihat dari proyeksi produksi tanaman pangan sepanjang 2026.

Berdasarkan Survei Kerangka Sampel Area (KSA), BPS memperkirakan luas panen padi NTB mencapai 326,67 ribu hektare sepanjang tahun ini. Angka itu meningkat 1,17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari luas panen itu, BPS memperkirakan produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 1,73 juta ton.

Jumlah ini menunjukkan potensi kenaikan sebesar 1,08 persen atau sekitar 18,52 ribu ton dibandingkan produksi 2025.

Sementara itu, produksi beras untuk konsumsi penduduk berpotensi mencapai 983,69 ribu ton.

BPS juga memperkirakan peningkatan produksi jagung. Luas panen jagung NTB sepanjang 2026 berpotensi mencapai 180,76 ribu hektare atau naik 4,43 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen berpotensi mencapai 1,25 juta ton. Angka ini menunjukkan proyeksi pertumbuhan sebesar 6,26 persen atau sekitar 73,61 ribu ton.

Meski proyeksi produksi pangan menunjukkan peningkatan, BPS mengingatkan adanya potensi dampak fenomena El Niño terhadap sektor pertanian.

Baca Juga :  Pemerintah Jamin Pasokan BBM Bersubsidi, Bahlil Minta Kelompok Mampu Beralih ke Nonsubsidi

Karena itu, pemerintah dan pelaku sektor pertanian perlu mencermati perkembangan kondisi cuaca sekaligus menjaga produktivitas pada periode berikutnya.

NTB Alami Deflasi 0,56 Persen pada Oktober

Di tengah penguatan perdagangan dan pertanian, BPS juga melaporkan penurunan harga sejumlah komoditas pada Oktober 2026.

NTB mengalami deflasi bulanan sebesar 0,56 persen. Namun, secara tahunan, inflasi masih mencapai 3,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,63.

Sementara itu, inflasi sepanjang Januari–Oktober 2026 mencapai 2,15 persen.

Penurunan harga beberapa komoditas pangan turut memengaruhi deflasi bulanan. Komoditas itu mencakup ikan layang, ikan tongkol, cumi-cumi, udang basah, dan daging ayam ras.

Selain komoditas pangan laut, harga bawang merah, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan juga mengalami penurunan.

Sebaliknya, BPS mencatat kenaikan harga cabai merah, kubis, tomat, air minum kemasan, dan sepeda motor.

Okupansi Hotel dan Kunjungan Wisatawan Turun

Berbeda dengan perkembangan ekspor dan NTP, sejumlah indikator pariwisata NTB mengalami penurunan pada September 2026.

BPS mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang mencapai 44,86 persen. Angka itu turun 6,93 poin persentase dibandingkan Agustus.

TPK hotel nonbintang juga turun 0,87 poin persentase menjadi 31,17 persen.

Penurunan turut terjadi pada jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.

BPS mencatat kedatangan 7.657 wisatawan mancanegara pada September 2026 atau turun 18,86 persen dibandingkan Agustus.

Sementara itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.294.580 perjalanan. Angka ini turun 4,53 persen secara bulanan.

Meski mengalami penurunan dibandingkan Agustus, perjalanan wisatawan nusantara masih tumbuh 1,99 persen dibandingkan September 2025.

Follow WhatsApp Channel ntbkita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemkab Lombok Barat Latih UMKM Kelola Keuangan dan Pasarkan Produk dengan AI
Pemprov NTB Minta Tata Niaga Tembakau Dibenahi, Petani Butuh Kepastian Harga
214 Gerai Koperasi Merah Putih di NTB Rampung, 119 Unit Mulai Beroperasi
Gubernur NTB Lalu Iqbal Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Kunci Pemerataan Kesejahteraan
Dekranasda Sumbawa Gandeng BRIDA NTB Olah Limbah Jagung dan Pewarna Alam Tenun
Aktivitas Ekonomi Menggeliat, Penerimaan Pajak NTB Tembus Rp2,18 Triliun
Manjakan Investor, Pemkab Lombok Tengah Siapkan 4 Poin Kemudahan Ini
Buka Akses Modal UMKM dan Petani, Pemkab Lombok Tengah Dorong Penguatan Inklusi Keuangan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 09:25 WITA

Ekspor NTB Melonjak 244,23 Persen, Tembus US$2,07 Miliar hingga September 2026

Senin, 2 November 2026 - 15:45 WITA

Pemkab Lombok Barat Latih UMKM Kelola Keuangan dan Pasarkan Produk dengan AI

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:33 WITA

Pemprov NTB Minta Tata Niaga Tembakau Dibenahi, Petani Butuh Kepastian Harga

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:07 WITA

214 Gerai Koperasi Merah Putih di NTB Rampung, 119 Unit Mulai Beroperasi

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:50 WITA

Gubernur NTB Lalu Iqbal Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Kunci Pemerataan Kesejahteraan

Berita Terbaru