MATARAM, ntbkita.com-Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa laju ekonomi daerah harus berbuah nyata pada perbaikan dompet rakyat kecil. Hal ini ia sampaikan langsung saat menghadiri The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Miq Iqbal hadir bersama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. Pada sesi terpisah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung serta praktisi kreatif Ernest Prakasa dan Angga Dwimas Sasongko turut membagikan pandangan mereka.
Melejit 10,42 Persen, NTB Pacu Manfaat Nyata
Ekonomi NTB mencatat pembalikan arah yang sangat tajam. Sempat terkontraksi 1,47 persen pada semester I 2025, angka pertumbuhan NTB melesat ke 10,42 persen pada semester I 2026.
Namun, Miq Iqbal mengingatkan jajarannya agar tidak lekas berpuas diri dengan indikator statistik makro semata. Menurutnya, roda ekonomi daerah wajib memangkas angka kemiskinan secara konkret dan membuka akses usaha seluas-luasnya.
“Pertumbuhan ekonomi yang cepat di tengah kemiskinan yang tinggi hanya akan membuat banyak masyarakat tertinggal. Kita ingin membangun NTB tanpa meninggalkan siapa pun,” kata Miq Iqbal di hadapan para peserta forum.
Perkuat Sektor Pertanian dan Pariwisata
Ia memaparkan, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB menanjak pesat dari kisaran Rp52 triliun pada 2010 menjadi Rp170 triliun pada 2025. Miq Iqbal kini mengarahkan kebijakan daerah untuk memperkokoh tiga pilar utama, yakni pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, sektor pertanian menopang produksi bahan lokal, sedangkan pariwisata mendatangkan pasar konsumen yang besar. Di sisi lain, ekonomi kreatif melipatgandakan nilai jual produk lewat sentuhan desain, pengolahan higienis, serta strategi promosi yang segar.
Inspirasi Pedagang Kelapa Sirkuit Mandalika
Miq Iqbal membagikan cerita menarik mengenai pedagang kelapa muda di area sirkuit MotoGP Mandalika. Pedagang tersebut sukses melipatgandakan harga jual hingga tiga kali lipat setelah mengemas produknya menjadi coconut smoothie modern.
“Apa yang berubah? Bukan sekadar nama atau kemasannya. Yang berubah adalah kepercayaan diri untuk berinovasi,” ujar Iqbal.
Contoh ini membuktikan bahwa pelaku usaha kecil tidak selalu membutuhkan modal raksasa atau teknologi rumit. Pelaku UMKM cukup jeli membaca selera konsumen dan berani memberi sentuhan baru agar pendapatan keluarga melonjak drastis.
Miq Iqbal meminta ajang internasional seperti balapan motor dunia membawa cipratan rezeki langsung ke kantong masyarakat lokal. Pariwisata NTB wajib saling mengait dengan perajin kriya, juru masak kuliner khas, desainer fesyen, serta petani setempat.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menggarisbawahi pentingnya sinergi erat antara pemerintah pusat dan daerah. Pihaknya terus menyiapkan payung kebijakan, kemudahan permodalan, serta jalur investasi agar pegiat lokal mampu menembus rantai pasok nasional maupun global.










Komentar