LOMBOK BARAT – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Nusa Tenggara Barat mengevaluasi total pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis ini bertujuan menyusun rekomendasi kebijakan berbasis data konkret guna mendongkrak status gizi siswa sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Tim peneliti memaparkan hasil kajian tersebut dalam Seminar Hasil Kajian di Ruang Rapat BRIDA NTB, Selasa (13/10/2026). Kajian mengungkap fakta bahwa program MBG terbukti meringankan beban pengeluaran uang saku para siswa di sekolah.
Sejumlah Catatan Evaluasi dan Menu
Meski membawa dampak positif, tim peneliti menyoroti beberapa catatan penting yang memerlukan pembenahan segera. Aspek krusial tersebut mencakup ketepatan jadwal distribusi makanan, keberagaman serta kelezatan menu, hingga takaran porsi yang wajib memenuhi standar gizi anak.
Peneliti juga mencermati pengaruh program terhadap fokus kegiatan belajar siswa di kelas. Dari sektor ekonomi, tim riset mendorong keterlibatan aktif pemasok lokal agar perputaran dana program langsung menyentuh masyarakat NTB.
Dorong Peran Petani dan Peternak Daerah
Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menegaskan bahwa kesuksesan MBG memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan pemenuhan nutrisi harian anak. Keberhasilan program turut menyangkut perlindungan anak, ketahanan pangan keluarga, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“NTB memiliki potensi pertanian, peternakan, dan perikanan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan program. Karena itu, evaluasi berbasis data diperlukan untuk mengetahui sejauh mana potensi lokal telah terlibat dalam rantai pasok MBG,” kata I Gede Putu Aryadi.
Pihak Bappeda NTB pun menyuarakan komitmen serupa demi menyelaraskan pasokan bahan pangan. Bappeda meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyerap hasil panen para petani, peternak, dan nelayan lokal secara optimal.
Perkuat Akurasi Riset dan Pengawasan
Dalam kesempatan yang sama, akademisi dari Universitas 45 Mataram mengingatkan pentingnya menambah sampel penelitian pada kajian lanjutan. Langkah ini akan mempertajam akurasi data serta memperjelas disparitas kondisi antara kawasan perkotaan dan perdesaan.
Para peserta seminar juga mengupas sejumlah hambatan lapangan, mulai dari perizinan riset hingga urgensi pengawasan keamanan pangan secara ketat. Sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah dan kampus menjadi kunci utama agar program tepat sasaran.
Melalui data riset yang solid ini, BRIDA NTB siap menyerahkan policy brief resmi kepada Gubernur NTB. Dokumen tersebut akan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang terukur dan berdampak nyata.









Komentar