MATARAM, ntbkita.com-PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus meluncurkan program Trenggiling atau Trade-In Tabung Keliling di Mataram. Program itu menjadi layanan penukaran LPG 3 kilogram ke Bright Gas non-PSO secara keliling pertama di Indonesia.
Pertamina menjalankan program itu melalui Sales Area Nusa Tenggara Barat. Pemprov NTB dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) turut mendukung pelaksanaannya.
Trenggiling menyasar masyarakat mampu dan pelaku usaha yang masih menggunakan LPG bersubsidi. Program itu juga bertujuan menjaga penyaluran LPG 3 kilogram agar lebih tepat sasaran.
Trenggiling Jemput Konsumen
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah NTB Dany Hutama Aji mengatakan Trenggiling memakai strategi jemput bola. Armada program akan mendatangi konsumen di kawasan perkotaan dan pusat kegiatan ekonomi.
“Selama ini pangkalan lebih banyak menyediakan LPG 3 kilogram, sehingga masyarakat maupun pelaku usaha yang membutuhkan produk non-PSO sering mengalami kesulitan. Melalui Trenggiling, armada kami akan menyisir wilayah perkotaan dan pusat ekonomi agar konsumen dapat langsung melakukan trade-in ke Bright Gas 5,5 kilogram,” ujarnya.
Pertamina menyasar pelaku usaha komersial seperti UMKM, usaha penatu, hotel, dan restoran. Program itu juga menyasar masyarakat yang mampu memakai LPG non-subsidi.
Dany mengatakan Trenggiling turut merespons penyesuaian kuota LPG 3 kilogram dari pemerintah pusat. Pertamina menyiapkan promosi dan potongan harga penukaran tabung untuk mempercepat peralihan konsumen.
Pertamina juga merencanakan penambahan agen non-PSO di Kabupaten Lombok Utara.
Pemprov Dorong Subsidi Tepat Sasaran
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTB Syamsuddin mengatakan keberhasilan program bergantung pada kesadaran masyarakat mampu.
“Pemerintah Provinsi NTB berperan sebagai fasilitator agar kuota LPG subsidi benar-benar tepat sasaran bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami berharap masyarakat yang mampu dapat beralih dari tabung melon ke LPG non-subsidi,” ujarnya.
Syamsuddin meminta pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, Pertamina, serta Hiswana Migas memperkuat sinergi. Kerja sama itu akan membantu penyaluran LPG bersubsidi sesuai regulasi.
“Target utama Bapak Gubernur adalah menurunkan angka kemiskinan ekstrem di desa-desa sasaran terutama yang masuk dalam program Desa Berdaya. Ketika subsidi tepat sasaran, masyarakat yang membutuhkan memperoleh manfaat secara optimal, sementara kelompok mampu dan pelaku usaha menggunakan LPG non-subsidi,” katanya.
Dukung Desa Mandiri Energi
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB Lalu Wiranata mengapresiasi peluncuran Trenggiling. Ia menilai program itu membawa terobosan baru dalam penyaluran energi.
“Program ini sangat potensial. Kalau ikut lomba inovasi, saya yakin bisa menjadi juara karena baru pertama di Indonesia,” katanya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Wiranata, Trenggiling juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor untuk mendukung program prioritas Pemprov NTB.
“Kami sudah berdiskusi bersama Dinas ESDM, Pertamina dan Bulog untuk mendukung program Bapak Gubernur melalui pembentukan Desa Mandiri Energi. Fokus utamanya adalah mengentaskan kemiskinan ekstrem hingga nol persen di desa-desa sasaran. Disperindag siap berkolaborasi dengan siapa pun demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Wiranata.
Ia turut mengapresiasi pemilihan nama dan maskot Trenggiling. Program itu mengangkat satwa yang dilindungi di NTB sebagai identitas layanan.










Komentar