Inflasi NTB Capai 4,03 Persen, NTP Menguat dan Wisnus Tembus 1,41 Juta

Avatar photo

Rabu, 2 September 2026 - 08:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rilis BPS NTB

Rilis BPS NTB

MATARAM, ntbkita.com-Inflasi Nusa Tenggara Barat mencapai 4,03 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Namun, sejumlah indikator lain tetap menunjukkan penguatan, mulai dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 129,67 hingga kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 1,41 juta orang.

Aktivitas perdagangan luar negeri juga bergerak positif. Nilai ekspor NTB sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$166,08 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Wahyudin memaparkan perkembangan itu dalam Berita Resmi Statistik di Aula Tambora BPS NTB, Selasa (1/9/2026).

Inflasi Tahunan NTB Capai 4,03 Persen

BPS mencatat inflasi year on year (yoy) NTB pada Agustus 2026 sebesar 4,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 112,85.

Kota Bima mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,49 persen, sedangkan Kota Mataram mencatat angka terendah sebesar 3,95 persen.

Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi mencapai 0,57 persen. Sementara secara year to date (ytd), inflasi berada pada level 2,35 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi tekanan cukup besar dengan inflasi 4,82 persen.

Sejumlah komoditas pangan ikut memberi andil terhadap kenaikan harga, antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beberapa jenis ikan.

Selain pangan, beberapa kelompok pengeluaran lain juga mengalami kenaikan harga, termasuk informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

Namun, penurunan harga tomat, bawang merah, bawang putih, biaya sekolah menengah atas, dan bensin ikut menahan tekanan inflasi.

Pemprov Sebut Inflasi sebagai Alarm

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik menilai kenaikan inflasi perlu menjadi perhatian pemerintah.

Menurutnya, pemerintah harus memperkuat pengendalian harga, terutama untuk komoditas yang langsung memengaruhi daya beli masyarakat.

“Inflasi adalah alarm. Karena itu harus kita jawab dengan pengendalian harga yang lebih kuat. Tetapi kita juga harus melihat indikator ekonomi secara utuh,” kata pria yang akrab disapa Aka ini.

Baca Juga :  Wamenpar Resmikan Sade Social Space, Mandalika Tambah 38 Kamar dan Fasilitas Olahraga

Karena itu, Pemprov tidak hanya melihat perkembangan ekonomi dari angka inflasi.

Pemerintah juga mencermati pergerakan sektor pertanian, pariwisata, transportasi, dan perdagangan luar negeri.

NTP Petani Naik Jadi 129,67

Salah satu indikator yang menguat pada Agustus 2026 adalah NTP.

BPS mencatat NTP NTB mencapai 129,67 atau naik 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 1,51 persen. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya bertambah 0,07 persen.

Pergerakan dua indeks itu membuat daya tukar petani membaik.

Lima subsektor juga mencatat NTP di atas 100. Tanaman pangan mencapai 125,93, hortikultura 189,58, tanaman perkebunan rakyat 111,09, peternakan 118,96, dan perikanan 113,16.

Pemprov memandang perkembangan NTP sebagai salah satu indikator penting untuk membaca kemampuan sektor produksi menciptakan nilai ekonomi di tengah tekanan harga.

“Ketika harga yang diterima petani tumbuh lebih tinggi daripada harga yang mereka bayar, daya tukarnya membaik. Ini menjadi salah satu modal penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat,” ujar Aka.

Wisatawan Nusantara Tembus 1,41 Juta Orang

Sektor pariwisata juga menunjukkan peningkatan aktivitas.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2026 mencapai 51,54 persen. Angka itu naik 6,68 poin dibandingkan Juni dan bertambah 1,62 poin dibandingkan Juli 2025.

Jumlah wisatawan nusantara mencapai 1.410.478 orang atau tumbuh 15,95 persen dibandingkan Juli 2025.

Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara yang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) mencapai 9.039 orang. Jumlah itu meningkat 29,50 persen dibandingkan Juni.

Pergerakan sektor pariwisata juga berjalan seiring dengan peningkatan mobilitas masyarakat.

Pada Juli 2026, jumlah penumpang yang datang melalui angkutan laut naik 26,52 persen secara bulanan. Jumlah penumpang yang berangkat juga tumbuh 23,57 persen.

Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang datang mencapai 129.516 orang atau naik 20,59 persen dibandingkan Juni.

Baca Juga :  Ekonomi NTB Tumbuh 10,42 Persen, Ekonom Unram Ingatkan Manfaatnya Harus Sampai ke Warga

Sementara penumpang yang berangkat mencapai 125.228 orang atau bertambah 19,57 persen.

Ekspor Januari-Juli Capai US$166,08 Juta

Perdagangan luar negeri ikut memberi gambaran pergerakan aktivitas ekonomi NTB.

BPS mencatat nilai ekspor sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$166,08 juta.

Pada Juli, tembaga menjadi komoditas ekspor terbesar dengan kontribusi 93,55 persen. Perhiasan dan permata serta ikan dan udang menyusul sebagai komoditas ekspor lainnya.

NTB mengirim komoditas ekspornya ke sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Thailand, Korea Selatan, Vietnam, dan Taiwan.

Sebaliknya, nilai impor sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai US$47,87 juta atau turun 72,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Aka, perkembangan sejumlah indikator itu menunjukkan perekonomian NTB tetap memiliki daya tahan meski menghadapi tekanan harga.

“Inflasi harus kita kendalikan karena menyangkut daya beli masyarakat. Tetapi NTP yang menguat, pariwisata yang tumbuh, mobilitas yang meningkat dan ekspor yang melonjak menunjukkan bahwa kita memiliki daya tahan ekonomi,” katanya.

Pengendalian Harga dan Produksi Harus Berjalan Bersama

Pemprov NTB menilai pengendalian inflasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan sektor produktif.

Pemerintah perlu menjaga pasokan dan distribusi pangan sekaligus memperkuat sektor yang menjadi sumber pendapatan masyarakat.

Selain itu, penguatan produksi pertanian, pengembangan pariwisata, peningkatan nilai tambah komoditas, dan perluasan perdagangan menjadi bagian penting untuk mempertahankan aktivitas ekonomi.

Pemprov juga akan menjadikan kenaikan inflasi sebagai pengingat agar pemerintah lebih responsif terhadap perubahan harga.

Namun, NTP, pariwisata, mobilitas masyarakat, dan perdagangan luar negeri tetap menjadi modal untuk menjaga pergerakan ekonomi.

Aka menegaskan pemerintah tidak ingin membaca kondisi perekonomian daerah hanya melalui satu indikator.

“Alarmnya harus kita dengarkan, tetapi kita juga harus tahu bahwa kita punya modal untuk menjawabnya. Tugas pemerintah adalah menjaga harga, memperkuat produksi dan memastikan pertumbuhan ekonomi memberi manfaat yang semakin luas kepada masyarakat,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel ntbkita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Komisi IV DPR RI Dorong Budidaya Lobster Lombok Timur Naik Kelas
Dukung Ketahanan Pangan, Polres Lombok Timur Serahkan Alsintan kepada Petani
55 Desa NTB Terima Rp 16,5 Miliar dari Program Desa Berdaya
Ekonomi NTB Tumbuh 10,42 Persen, Ekonom Unram Ingatkan Manfaatnya Harus Sampai ke Warga
Disparekraf NTB Siapkan Creative Hub dan Ekraf Satu Data
Sensus Ekonomi NTB Capai 94 Persen, Pemprov Perkuat Kebijakan Berbasis Data
Pemprov NTB Genjot Hilirisasi Pangan dan Pariwisata Berkualitas
DBH Diperkirakan Hanya Rp 13,3 Miliar, Pemprov NTB Ketatkan Belanja

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 10:30 WITA

Komisi IV DPR RI Dorong Budidaya Lobster Lombok Timur Naik Kelas

Rabu, 2 September 2026 - 08:09 WITA

Inflasi NTB Capai 4,03 Persen, NTP Menguat dan Wisnus Tembus 1,41 Juta

Selasa, 1 September 2026 - 16:48 WITA

Dukung Ketahanan Pangan, Polres Lombok Timur Serahkan Alsintan kepada Petani

Selasa, 1 September 2026 - 08:44 WITA

55 Desa NTB Terima Rp 16,5 Miliar dari Program Desa Berdaya

Senin, 31 Agustus 2026 - 03:20 WITA

Ekonomi NTB Tumbuh 10,42 Persen, Ekonom Unram Ingatkan Manfaatnya Harus Sampai ke Warga

Berita Terbaru