LOMBOK BARAT, ntbkita.com-Sebanyak 232 proposal Sayembara Riset dan Inovasi Daerah Provinsi NTB 2026 lolos seleksi administrasi dan kini masuk tahap seleksi substansi.
Tim Evaluasi Riset dan Inovasi Daerah akan memusatkan penilaian pada tiga tema prioritas, yakni ketahanan pangan, pariwisata berkelanjutan, dan pengentasan kemiskinan ekstrem.
Jumlah proposal yang masuk melampaui perkiraan awal. Karena itu, tim menyesuaikan mekanisme penilaian agar proses seleksi tetap efektif, objektif, dan terukur.
Tim membahas mekanisme itu dalam rapat lanjutan Sayembara Riset dan Inovasi Daerah 2026 Tahap 1 di Lombok Barat, Jumat (11/9).
Petakan 232 Proposal ke Tiga Tema
Tim Evaluasi akan memetakan seluruh proposal berdasarkan tiga tema prioritas.
Pemetaan itu akan menunjukkan jumlah proposal pada setiap tema sekaligus membantu tim membagi beban penilaian sesuai karakter dan jumlah proposal.
Perwakilan Tim Seleksi menjelaskan hasil pemetaan akan menjadi dasar pembagian proposal kepada evaluator berdasarkan kapasitas dan bidang keahlian.
Setiap evaluator akan melakukan penilaian awal. Setelah itu, tim akan membandingkan hasil penilaian dan membahasnya bersama.
Melalui mekanisme itu, tim ingin mengurangi subjektivitas sekaligus memberi ruang yang proporsional bagi setiap tema untuk menghasilkan proposal terbaik.
Substansi Jadi Penentu
Pada tahap ini, tim tidak lagi menilai kelengkapan administrasi.
Evaluator akan memeriksa kualitas rumusan masalah, kebaruan, metodologi, relevansi dengan prioritas pembangunan, kelayakan, serta dampak luaran.
Tim juga akan melihat peluang setiap riset untuk berkembang menjadi produk atau solusi yang dapat digunakan.
Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Aryadi menegaskan tim tidak boleh menentukan pilihan hanya berdasarkan judul proposal.
“Yang kita pilih bukan hanya judul yang bagus, tetapi yang substansinya kuat dan bisa dikembangkan sampai menghasilkan produk atau solusi,” ujar Aryadi.
Menurutnya, tim harus melihat kekuatan isi sekaligus peluang hasil penelitian memberi manfaat bagi pembangunan daerah.
Proposal Angkat Digitalisasi hingga Herbal
Aryadi mengatakan proposal yang masuk membawa tema cukup beragam.
Peneliti mengajukan topik digitalisasi, kemiskinan, maritim, hingga pengembangan herbal berbasis potensi lokal.
Keragaman itu memberi BRIDA lebih banyak pilihan untuk menemukan penelitian yang dapat menjawab kebutuhan pembangunan di NTB.
Namun, tim tetap akan menguji setiap proposal berdasarkan kualitas substansi dan relevansinya dengan tiga prioritas utama sayembara.
Riset Terpilih Masuk Inkubasi pada 2027
BRIDA tidak ingin proses berhenti setelah menentukan proposal terbaik.
Pada 2027, BRIDA akan membawa riset terpilih ke tahap inkubasi inovasi untuk mendapatkan pendampingan dan pengembangan lebih lanjut.
BRIDA juga akan membawa hasil penelitian yang memiliki potensi ekonomi dan sosial menuju tahap hilirisasi.
Dengan langkah itu, hasil riset tidak hanya menghasilkan rekomendasi atau publikasi.
BRIDA ingin peneliti mengembangkan hasilnya menjadi produk atau solusi yang dapat digunakan dan diukur manfaatnya.
Melalui seleksi substansi, BRIDA menargetkan lahirnya riset yang memenuhi standar ilmiah, sesuai kebutuhan pembangunan, dan memiliki peluang untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat NTB.










Komentar