LOMBOK TENGAH, ntbkita.com-Kampung Adat Sade mulai menapaki perjalanan pemulihan setelah kebakaran merusak puluhan bangunan di kawasan adat itu. Masyarakat bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengawali rekonstruksi rumah adat dan Masjid Sade melalui tradisi Nyemulak, Kamis (3/9/2026).
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal hadir langsung dalam prosesi di Kampung Adat Sade, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.
Prosesi Nyemulak menandai awal pembangunan kembali melalui pemasangan tiang pertama rumah adat dan masjid yang terdampak kebakaran.
Nyemulak Bukan Sekadar Memasang Tiang
Bagi masyarakat Sasak Rembitan, Nyemulak tidak sekadar menandai dimulainya pembangunan rumah.
Tradisi itu menjadi bagian dari tata cara adat masyarakat ketika memulai pembangunan. Warga menempatkan proses membangun sebagai ikhtiar bersama, penghormatan terhadap nilai leluhur, sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan.
Karena itu, Nyemulak membawa makna lebih dalam dalam pemulihan Sade.
Masyarakat tidak hanya ingin membangun kembali rumah yang terbakar. Mereka juga ingin menjaga pengetahuan, tata nilai, filosofi, dan identitas budaya yang melekat pada kampung adat.
Iqbal menegaskan rekonstruksi Sade tidak boleh berjalan seperti pembangunan fisik biasa.
Pemerintah dan masyarakat harus mengembalikan karakter Sade sedekat mungkin dengan bentuk dan nilai aslinya sekaligus menjaga keamanan kawasan untuk jangka panjang.
“Pemasangan tiang pancang pertama atau Nyemulak ini merupakan ikhtiar panjang dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade. Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar,” ujar Miq Iqbal.
Iqbal Minta Rekonstruksi Tak Terburu-buru
Menurut Iqbal, ketelitian dan kesabaran menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Wisatawan datang ke Sade bukan semata-mata untuk melihat bangunan. Mereka juga ingin memahami cerita, tradisi, arsitektur, ritual, dan kehidupan masyarakat Sasak yang terus diwariskan lintas generasi.
“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Wisatawan datang ke Sade karena ingin melihat bangunan yang bercerita tentang budaya masyarakat Sasak serta ritual dan kehidupan yang ada di NTB. Karena itu, nilai awal Sade harus dikembalikan,” tegasnya.
Karena itu, Iqbal meminta seluruh pihak menjaga karakter asli kampung selama proses rekonstruksi.
Pemerintah juga ingin memastikan pembangunan tidak menghilangkan unsur budaya yang membuat Sade berbeda dari kawasan wisata lain.
Satgas Rekonstruksi Sade Akan Koordinasikan Pemulihan
Untuk menjaga arah pembangunan, Iqbal meminta pemerintah segera membentuk Satuan Tugas Rekonstruksi Sade.
Satgas akan melibatkan unsur pemerintah, masyarakat adat, serta pihak lain yang terlibat dalam pemulihan.
Melalui tim itu, seluruh pihak dapat menyatukan perencanaan, kebutuhan, dan tahapan pembangunan sejak awal.
Selain itu, Iqbal mendorong pembentukan rekening bersama untuk menampung bantuan.
Rekening itu akan membantu pengelola mencatat seluruh dukungan yang masuk sekaligus menjaga transparansi pengelolaan dana.
“Banyak pihak yang ingin membantu. Karena itu, bantuan yang masuk harus dikumpulkan dan dikelola secara transparan,” katanya.
Museum Semi Permanen Disiapkan Selama Rekonstruksi
Di tengah proses pembangunan kembali, Iqbal juga meminta percepatan pembangunan museum semi permanen.
Fasilitas itu akan menjadi ruang edukasi sementara bagi wisatawan selama rekonstruksi berlangsung.
Museum juga akan membantu masyarakat menjaga cerita dan identitas Sade tetap hadir di tengah masa pemulihan.
“Ketika wisatawan datang, mereka tetap bisa melihat dan memahami bentuk serta cerita tentang Sade. Karena proses rekonstruksi dimulai, kawasan ini tentu harus ditata,” ujarnya.
Dengan cara itu, wisatawan masih dapat mengenal sejarah dan budaya Sade meski sebagian kawasan sedang menjalani pembangunan kembali.
Maulid Jadi Momentum Memulai Pembangunan
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan Nyemulak menjadi penanda awal pembangunan kembali rumah adat Sasak dan Masjid Sade yang terdampak kebakaran.
Menurut Pathul, momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan makna tersendiri bagi masyarakat.
“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan waktu yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” kata Pathul.
Ia juga mengapresiasi dukungan masyarakat, pemerintah, dan para donatur dalam proses pemulihan.
Pathul berharap seluruh pihak terus menjaga kebersamaan hingga rekonstruksi selesai.
Sementara itu, Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade Lalu Muh. Faozal mengatakan masyarakat Dusun Sade lebih dahulu bermusyawarah untuk menentukan waktu pelaksanaan Nyemulak.
“Hari ini merupakan hari baik yang telah disepakati bersama untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujarnya.
Kebakaran Berdampak pada 75 Rumah Adat
Pendataan pascakebakaran mencatat dampak pada 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 artshop.
Tim rekonstruksi akan menjalankan pemulihan secara bertahap sesuai perencanaan dan kemampuan sumber daya.
Bagi masyarakat Sade, pembangunan kembali tidak hanya berarti mengembalikan bangunan yang hilang.
Rekonstruksi juga menjadi kesempatan untuk menjaga warisan budaya, memulihkan ruang kehidupan masyarakat, dan memastikan generasi berikutnya tetap mengenali Sade sebagai bagian penting dari peradaban Sasak Rembitan.
Nyemulak kini menjadi titik awal perjalanan itu.
Masyarakat membangun kembali Sade bukan hanya untuk mendirikan rumah, masjid, dan ruang kehidupan. Mereka juga berupaya menghidupkan kembali nilai, pengetahuan, dan warisan Sasak yang membuat Sade tetap memiliki identitasnya.










Komentar