MATARAM, ntbkita.com-Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Désirée menuntaskan kunjungan dua hari di Nusa Tenggara Barat dengan melihat perjalanan masyarakat bangkit dari gempa 2018 hingga menjaga laut, hutan, dan sumber air.
Sepanjang 5-6 September 2026, Victoria bertemu perajin perempuan, petani, siswa, tenaga kesehatan, masyarakat pesisir, serta masyarakat adat. Setiap pertemuan membawa cerita mengenai pemulihan penghidupan, layanan dasar, kesiapsiagaan bencana, dan perlindungan lingkungan.
Victoria datang dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador United Nations Development Programme (UNDP) untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri, Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, serta rombongan mendampingi rangkaian kunjungan.
Tenun dan 11 Rempah Buka Kunjungan di Lombok
Perjalanan Victoria di NTB bermula di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.
Iqbal menyambut pewaris takhta Swedia itu dengan kain tenun khas NTB dari penenun Kre Alang Sumbawa.
Pemprov juga memperkenalkan keramahan lokal melalui minuman herbal khas Sasak Lombok.
Iqbal menyebut Lombok sebagai “surga rempah-rempah” sebelum mengajak Victoria mencicipi minuman yang memadukan sedikitnya 11 jenis rempah.
“Semoga minuman ini dapat menyegarkan dan menguatkan Anda sebelum memulai kunjungan lapangan,” ujar Gubernur.
Victoria mencicipinya, tersenyum, lalu menjawab, “Enak!”
Dari bandara, rombongan menuju Bale Kita di Kompleks Islamic Center Mataram.
Victoria Temui Perajin dan Petani Sajang
Di Bale Kita, Victoria melihat kerajinan rotan, cukli, kain songket, serta berbagai produk turunannya.
Karya para perajin perempuan menarik perhatiannya. Victoria beberapa kali menunjukkan kekaguman dan mengaku waktu kunjungannya terlalu singkat untuk mengeksplorasi lebih banyak kekayaan budaya Lombok.
Namun, pertemuan di Bale Kita tidak berhenti pada produk kerajinan.
Para perajin berbagi pengalaman membangun kembali usaha setelah gempa 2018. Victoria juga mendengar cerita Kelompok Tani Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.
Sekretaris Desa Sajang sekaligus Ketua Pengelola Air Kelompok Tani Arif menjelaskan manfaat perbaikan jaringan irigasi sekitar 450 meter pada dua titik di desa.
“Apakah Anda mengubah jenis tanaman, dan apakah sistem irigasinya berubah agar lebih tangguh?” tanya Putri Victoria.
Arif mengatakan petani tetap mempertahankan komoditas yang selama ini menjadi sumber penghidupan.
“Sebelum ada bantuan irigasi, kami hanya bisa tanam lima sampai enam bulan. Sekarang aliran air stabil sehingga masa tanam lebih panjang. Pascagempa 2018, UNDP hadir membersamai kami dan memberi semangat baru untuk menata kehidupan,” ujarnya.
Aliran air yang lebih stabil membantu petani memperpanjang masa tanam sekaligus menjaga produktivitas lahan dan peluang pendapatan keluarga.
Sekolah Tahan Gempa dan Kesiapsiagaan Siswa
Perjalanan kemudian berlanjut ke SMKN 1 Pemenang, Lombok Utara.
Victoria melihat sekolah yang mendapat dukungan pembangunan kembali setelah gempa 2018. Ia juga berbincang dengan siswa mengenai pengalaman mempertahankan pendidikan pada masa pemulihan.
Sebelumnya, siswa menjalani kegiatan belajar di kelas darurat. Sejak 2022, mereka mulai menggunakan gedung dengan konstruksi tahan gempa secara penuh.
Sekolah kini memiliki laboratorium bahasa dan hotel mini untuk mendukung pembelajaran vokasi pada bidang pariwisata, perhotelan, dan tata boga.
Victoria juga menanyakan kesiapan sekolah menghadapi bencana.
Kepala SMKN 1 Pemenang Aswida Windartiningsih menjelaskan sekolah memasukkan edukasi kebencanaan ke dalam pembelajaran dan rutin menggelar simulasi kesiapsiagaan.
Bagi NTB, pengalaman itu menunjukkan pemulihan tidak cukup hanya mengembalikan gedung sekolah. Siswa juga perlu memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk menghadapi risiko bencana berikutnya.
Puskesmas Pemenang Manfaatkan Teknologi
Victoria kemudian mengunjungi Puskesmas Pemenang.
Di sana, ia melihat pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus pemanfaatan teknologi informasi untuk mendukung layanan dan pemantauan kesehatan.
Kunjungan ke sekolah dan puskesmas memperlihatkan dua sisi pemulihan pascagempa.
Masyarakat tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang kembali berfungsi. Mereka juga membutuhkan pendidikan yang aman, kesiapsiagaan, serta layanan kesehatan yang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan.
Hari pertama kunjungan pun memperlihatkan bagaimana pemulihan menyentuh kehidupan sehari-hari, mulai dari usaha perajin dan petani hingga sekolah serta layanan kesehatan.
Hari Kedua, Victoria Menuju Gili Meno
Pada hari kedua, Victoria bergerak dari daratan menuju laut.
Ia berangkat dari Pelabuhan Oberoi bersama Iqbal menuju Gili Meno.
Sepanjang perjalanan, keduanya berbincang mengenai Gili Matra yang terdiri atas Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
Setibanya di Gili Meno, Victoria melihat kegiatan konservasi penyu, transplantasi terumbu karang, dan edukasi lingkungan.
Ia kemudian bersama Iqbal melepas tukik ke laut di Turtle Sanctuary Gili Meno.
“Saya sangat terkesan dengan semua hal yang sedang dilakukan di sini. Tempat ini sangat indah, bahkan luar biasa indah. Karena itu, segala upaya yang dapat kita lakukan untuk menjaga keindahannya merupakan kepentingan kita bersama,” ujar Putri Victoria.
Masyarakat Gili Meno menggantungkan kehidupan pada perikanan, pariwisata, perdagangan, dan berbagai usaha pesisir.
Karena itu, warga juga menjalankan rehabilitasi terumbu karang, penanaman mangrove, pengawasan laut, kegiatan bersih-bersih, serta pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
Upaya itu memperlihatkan praktik ekonomi biru pada tingkat masyarakat. Laut tetap menopang penghidupan, sementara warga menjaga ekosistem agar manfaatnya tidak berhenti pada satu generasi.
Victoria Akhiri Perjalanan di Karang Bajo
Setelah Gili Meno, Victoria mengunjungi Desa Adat Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
Ia melihat Mata Air Mandala, mengikuti penanaman pohon, serta berdialog dengan masyarakat mengenai hutan, sumber air, dan pengetahuan lokal.
Masyarakat Karang Bajo menjaga hubungan dengan alam melalui aturan dan tradisi yang mereka wariskan antargenerasi.
Wilayah Bayan memiliki empat kawasan hutan adat dengan sedikitnya 27 mata air yang menopang kebutuhan rumah tangga dan pertanian masyarakat.
“Saya sangat tersentuh dan merasa terhormat dapat menjadi bagian dari masyarakat di sini,” ujar Putri Victoria.
Kunjungan di Karang Bajo menutup rangkaian dua hari perjalanan Victoria di NTB.
Iqbal mengatakan rangkaian kunjungan memperlihatkan perjalanan panjang masyarakat NTB setelah gempa 2018.
UNDP bersama pemerintah pusat melalui Bappenas dan pemerintah daerah ikut mendukung pemulihan melalui berbagai program penghidupan, layanan dasar, dan penguatan ketangguhan masyarakat.
“Program-program yang hadir setelah gempa bukan hanya membantu proses pemulihan, tetapi juga membangkitkan semangat dan memberikan harapan kepada masyarakat untuk kembali berdiri dan menata masa depan,” ujar Miq Iqbal.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang menyambut Victoria sepanjang kunjungan.
Delapan tahun setelah gempa, pemulihan di NTB kini terlihat melalui berbagai aktivitas masyarakat.
Perajin kembali mengembangkan usaha, petani memperpanjang masa tanam, siswa belajar di gedung yang lebih aman, layanan kesehatan memanfaatkan teknologi, masyarakat pesisir menjaga laut, dan warga adat mempertahankan hutan serta sumber air.
Rangkaian itu menjadi gambaran perjalanan NTB setelah bencana: membangun kembali kehidupan sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi masa depan.










Komentar