MATARAM, ntbkita.com-Kain songket, rotan, cukli, dan beragam kerajinan khas Nusa Tenggara Barat menyambut Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Desiree di Bale Kita, Kompleks Islamic Center Mataram, Sabtu (5/9/2026).
Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri dan Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia Iqbal menyambut Victoria setibanya di Bale Kita. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal kemudian mendampinginya melihat satu per satu produk kerajinan yang dipamerkan.
Mulai dari rotan, cukli, kain songket hingga berbagai produk turunannya. Namun, songket khas Sasak menjadi salah satu karya yang paling menarik perhatian Victoria.
Songket Sasak Tarik Perhatian Victoria
Ahmad Munjizun memperkenalkan berbagai produk Bale Kita kepada Putri Mahkota Swedia.
Victoria tampak terkesan ketika melihat detail kain songket, terutama setelah mengetahui para perajin perempuan membuat karya itu dengan keterampilan tangan.
Ia beberapa kali menunjukkan kekagumannya terhadap kerajinan yang ada di Bale Kita.
Victoria bahkan menyampaikan bahwa waktu kunjungannya terasa terlalu singkat untuk mengeksplorasi lebih banyak kekayaan kerajinan dan budaya Lombok.
Ungkapan itu kemudian mencairkan suasana kunjungan.
Victoria tidak hanya melihat produk yang terpajang. Ia juga berbincang langsung dengan kelompok masyarakat dan para perajin.
Perajin Ceritakan Perjuangan Pascagempa 2018
Percakapan kemudian membawa Victoria pada cerita mengenai kehidupan para perajin setelah gempa Lombok dan Sumbawa pada 2018.
Para perajin menceritakan perjalanan mereka membangun kembali usaha setelah bencana.
Mereka juga berbagi pengalaman menghadapi berbagai tantangan, membuka akses pasar, serta mencari peluang agar produk lokal dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Victoria menyimak cerita para perajin dan mengapresiasi kerja keras masyarakat Lombok dalam memulihkan kehidupan ekonomi.
Ia juga memberi perhatian pada kemampuan masyarakat mempertahankan keterampilan dan tradisi di tengah proses bangkit dari bencana.
Songket Jadi Warisan sekaligus Sumber Penghidupan
Bagi para perajin, songket tidak hanya berfungsi sebagai benda kerajinan.
Sehelai kain membawa keterampilan yang diwariskan lintas generasi, membutuhkan waktu panjang dalam pengerjaan, sekaligus memberi penghidupan bagi keluarga.
Bagi perempuan yang menenunnya, keterampilan itu juga membuka ruang untuk memperkuat kemandirian ekonomi.
Karena itu, kunjungan Victoria ke Bale Kita tidak berhenti pada aktivitas melihat kerajinan.
Pertemuan itu juga mempertemukan tamu kerajaan Swedia dengan cerita mengenai tradisi, penghidupan, dan ketangguhan perempuan Lombok.
Agenda Pembangunan Berkelanjutan Hadir lewat Cerita Perajin
Victoria mengunjungi NTB dalam kapasitasnya sebagai Goodwill Ambassador UNDP untuk Pembangunan Berkelanjutan.
Perannya mencakup perhatian pada pengentasan kemiskinan, pembangunan masyarakat pedesaan, pendidikan, lingkungan, serta peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di Bale Kita, isu-isu itu hadir melalui pengalaman para perajin.
Cerita mereka menggambarkan bagaimana tradisi dapat tetap hidup sekaligus menjadi sumber pendapatan bagi keluarga.
Karya para perempuan Sasak juga memperlihatkan hubungan antara budaya dan ekonomi masyarakat.
Songket bukan hanya identitas dan warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menopang kehidupan para perajin.
Victoria Merasa Waktu Kunjungannya Terlalu Singkat
Sebelum meninggalkan Bale Kita, Victoria kembali menyampaikan bahwa waktunya di lokasi itu terasa terlalu singkat untuk mengeksplorasi lebih banyak kekayaan budaya Lombok.
Kesan itu menutup kunjungannya di tengah deretan songket, rotan, cukli, dan produk kerajinan NTB.
Bagi para perajin, pertemuan itu menjadi kesempatan memperkenalkan bukan hanya hasil karya mereka, tetapi juga cerita di baliknya.
Cerita tentang perempuan yang menjaga tradisi, membangun kembali usaha setelah bencana, dan terus mencari ruang agar karya lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi keluarga.










Komentar