MATARAM, ntbkita.com-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 139 titik panas di Nusa Tenggara Barat pada 13 Agustus 2026.
Jumlah titik panas meningkat tajam dalam empat hari terakhir. Kondisi itu muncul saat sebagian besar wilayah NTB memasuki puncak musim kemarau.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid Satria Topan Primadi mengatakan satelit BMKG memantau penyebaran titik panas di berbagai wilayah NTB.
“Berdasarkan data satelit terdeteksi 139 titik panas di wilayah NTB,” katanya.
Titik Panas Naik dari 22 Menjadi 139
BMKG mencatat peningkatan titik panas secara berturut-turut sejak 10 Agustus 2026.
Pada 10 Agustus, BMKG mencatat 22 titik panas. Sehari kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 45 titik.
Selanjutnya, jumlah titik panas naik menjadi 75 pada 12 Agustus. Pada 13 Agustus, jumlahnya melonjak menjadi 139 titik.
Karena itu, BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama puncak kemarau.
Sebagian Besar Wilayah Masuk Kategori Sangat Kering
BMKG juga memantau tingkat kemudahan terbakar melalui Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan atau SPARTAN.
Pemetaan untuk 14 Agustus menunjukkan sebagian besar wilayah NTB masuk kategori merah.
Kategori itu menunjukkan kondisi lapisan atas permukaan tanah sangat kering dan sangat mudah terbakar.
Selain kondisi tanah, angin dapat memperbesar risiko penyebaran api.
BMKG mencatat angin secara umum bertiup dari tenggara hingga selatan dengan kecepatan 5–37 kilometer per jam. Sementara itu, suhu udara berada pada kisaran 19–34 derajat Celsius.
Hembusan angin yang cukup kencang dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran muncul.
Puncak Kemarau Landa Hampir 90 Persen Wilayah NTB
BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau 2026 berlangsung relatif panjang.
Musim kemarau berlangsung sekitar 25–27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan.
NTB mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Selanjutnya, BMKG memperkirakan periode puncak terjadi pada Agustus.
Pada periode itu, sekitar 89–90 persen wilayah NTB mengalami puncak musim kemarau.
Kondisi kering membuat potensi kebakaran meningkat, terutama apabila masyarakat melakukan aktivitas yang menghasilkan sumber api di lahan terbuka.
BMKG Minta Warga Hindari Pembakaran Terbuka
BMKG mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka ketika membersihkan gulma atau lahan perkebunan selama musim kemarau.
Selain itu, masyarakat perlu berhati-hati membuang benda yang berpotensi memicu api.
BMKG juga meminta warga segera melapor ketika menemukan titik api maupun indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
Dengan peningkatan titik panas dari 22 menjadi 139 hanya dalam empat hari, kewaspadaan menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas saat puncak musim kemarau.








Komentar