LOMBOK BARAT, ntbkita.com-Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat menargetkan Indeks Inovasi Daerah (IID) NTB melampaui 75 pada 2026.
Karena itu, BRIDA menggelar Bimbingan Teknis Penginputan Inovasi Innovative Government Award (IGA) 2026, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan itu bertujuan meningkatkan jumlah dan kualitas usulan inovasi dari organisasi perangkat daerah. Selain memenuhi indikator nasional, setiap inovasi harus memberikan dampak nyata bagi pelayanan publik dan pembangunan daerah.
OPD Lengkapi 22 Instrumen Pendukung
Melalui bimbingan teknis, peserta mendapat pendampingan langsung untuk memasukkan inovasi ke dalam sistem IGA.
Selain itu, tim BRIDA membantu peserta memenuhi 22 instrumen bukti pendukung. Instrumen itu mencakup regulasi, keterlibatan sumber daya manusia, kecepatan, kemanfaatan, kebaruan, replikasi, dan kualitas video inovasi.
Selanjutnya, peserta mengikuti pendampingan mulai dari tahap awal penginputan hingga verifikasi kelengkapan dokumen.
BRIDA membagi kegiatan dalam dua sesi. Sebanyak 19 OPD mengikuti sesi pertama, sedangkan OPD lain mengikuti sesi berikutnya.
Tim Kelompok Kerja Riset Bidang Inovasi, Hilirisasi, dan Kemitraan BRIDA bersama tim teknis mendampingi seluruh peserta.
Dengan demikian, setiap OPD dapat memperbaiki substansi sekaligus melengkapi bukti pendukung sebelum proses penilaian nasional.
Inovasi Harus Tunjukkan Dampak
Kepala BRIDA Provinsi NTB I Gede Putu Aryadi menegaskan setiap inovasi tidak cukup hanya memenuhi persyaratan administrasi.
Menurutnya, OPD juga harus menunjukkan kebaruan, manfaat, dan dampak yang dapat diukur.
“Jangan menganggap inovasi sebagai rutinitas. Yang dituntut pemerintah saat ini adalah inovasi yang berdampak, baik dalam mempercepat pelayanan publik maupun memberikan manfaat ekonomi yang dapat diukur,” tegas Aryadi.
Saat ini, pemerintah pusat lebih menitikberatkan penilaian pada penerapan dan dampak inovasi. Karena itu, jumlah proposal tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran.
Selain itu, setiap OPD perlu melengkapi proses bisnis, video, kisah keberhasilan, serta data sebelum dan setelah penerapan inovasi.
Data itu akan menunjukkan perubahan nyata yang lahir dari setiap program.
Nilai Inovasi NTB Naik Menjadi 74,23
Aryadi mengatakan NTB berhasil menaikkan nilai Indeks Inovasi Daerah dari sekitar 64 menjadi 74,23 pada penilaian sebelumnya.
Peningkatan itu berasal dari perbaikan kualitas inovasi dan bertambahnya usulan yang memenuhi indikator penilaian.
Selanjutnya, BRIDA menargetkan nilai IID NTB melampaui 75 pada 2026. Target itu menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing daerah.
Namun, Aryadi menegaskan BRIDA tidak dapat mengejar target itu sendirian. Seluruh perangkat daerah harus mengambil peran sesuai tugas dan fungsinya.
Karena itu, setiap OPD perlu menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas layanan atau menyelesaikan persoalan publik.
Di sisi lain, peningkatan IID juga berpotensi mendukung capaian Dana Insentif Daerah.
BPBD hingga Disnakertrans Paparkan Inovasi
Dalam sesi diskusi, sejumlah OPD memaparkan inovasi yang tengah mereka kembangkan.
BPBD memperkenalkan inovasi Siap Siaga. Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengembangkan Pepadu Plus menuju Skill Centre untuk memperluas kesempatan kerja.
Selain itu, BKD memaparkan inovasi TPP ASN. Tim teknis kemudian memberikan masukan agar seluruh usulan memenuhi instrumen IGA 2026.
Melalui pendampingan itu, BRIDA berharap OPD menghasilkan inovasi yang terukur, mudah direplikasi, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Pada akhirnya, peningkatan IID tidak hanya mengejar nilai penilaian nasional. BRIDA juga ingin membangun budaya inovasi yang mampu memperkuat kinerja pemerintahan daerah.










Komentar