LOMBOK BARAT, ntbkita.com-Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat membuka Sayembara Riset dan Inovasi Daerah bagi Peneliti Muda Tahun 2026.
BRIDA akan memilih 15 proposal terbaik dan memberikan dana stimulus Rp 30 juta untuk setiap proposal. Selain pendanaan, Tim Evaluasi akan mendampingi peneliti hingga tahap penerapan hasil riset.
BRIDA memulai sosialisasi program itu di Aula BRIDA NTB, Selasa (4/8). Program gagasan Gubernur NTB itu bertujuan menghimpun solusi inovatif untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah.
BRIDA Tetapkan Tiga Tema Prioritas
BRIDA NTB menetapkan tiga tema prioritas dalam sayembara riset tahun ini.
Tema itu mencakup pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan.
Melalui tema pengentasan kemiskinan, peserta dapat mengembangkan model intervensi, mengevaluasi program pemerintah, memperkuat tata kelola desa, dan merancang pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, tema ketahanan pangan dan energi mencakup peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, hilirisasi hasil pertanian, serta pengembangan energi.
Adapun tema pariwisata berkelanjutan meliputi pengelolaan destinasi, pariwisata berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Riset Harus Memberikan Solusi Nyata
Kepala BRIDA NTB I Gede Putu Aryadi mengatakan pemerintah membutuhkan dukungan perguruan tinggi, peneliti, praktisi, komunitas, dan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan pembangunan.
Karena itu, sayembara tidak hanya menilai kualitas karya ilmiah. Program juga mengutamakan riset terapan yang dapat mendukung kebijakan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Kami ingin sayembara ini menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti muda untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan di NTB. Hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Aryadi.
Menurutnya, NTB memiliki ratusan perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas, serta ribuan hasil penelitian.
Namun, pemerintah perlu menghubungkan potensi itu dengan kebutuhan pembangunan daerah. Dengan demikian, hasil penelitian dapat melahirkan inovasi yang lebih tepat guna.
BRIDA juga melibatkan akademisi, peneliti, praktisi, dan unsur independen dalam Tim Evaluasi. Langkah itu bertujuan menjaga proses seleksi tetap objektif, profesional, dan berorientasi pada hasil.
Tim Evaluasi Utamakan Riset Terapan
Anggota Tim Evaluasi Khairul Hamim mengatakan sayembara menjadi ruang bagi peneliti muda untuk menguji kemampuan dalam menawarkan solusi.
Menurutnya, peserta harus menghasilkan riset terapan yang dapat menjadi dasar kebijakan atau melahirkan inovasi bagi masyarakat.
Karena itu, peneliti perlu memahami persoalan daerah sebelum menyusun proposal. Selanjutnya, mereka harus merancang metode dan hasil yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
Tim Evaluasi akan menilai proposal sekaligus mendampingi peserta terpilih hingga tahap penerapan.
Peserta Minta Pedoman Teknis Lebih Rinci
Dalam sesi diskusi, peserta dari Universitas Mataram meminta BRIDA menyusun pedoman teknis Rencana Anggaran Biaya secara lebih rinci.
Pedoman itu perlu menjelaskan ketentuan honorarium, perpajakan, pengadaan barang, dan persyaratan administrasi. Salah satunya Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak.
Menurut peserta, panduan yang jelas akan membantu peneliti menyusun proposal sejak awal.
Sementara itu, perwakilan Universitas Islam Al-Azhar mengusulkan agar BRIDA tetap membuka ruang bagi riset kesehatan.
Namun, penelitian kesehatan harus berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, atau pariwisata berkelanjutan.
Melalui sayembara ini, BRIDA NTB ingin memperkuat pembangunan berbasis riset. Selain itu, program akan memperluas kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.










Komentar