MATARAM, ntbkita.com-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menegaskan transformasi digital tidak cukup hanya mengadopsi teknologi. Pemerintah juga harus mengubah pola pikir, budaya kerja, kepemimpinan, dan cara melayani masyarakat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB Ahsanul Halik menyampaikan pandangan itu saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional Sistem dan Teknologi Informasi (SENASTIF) 2026, Senin (3/8).
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram menggelar seminar bertema “Inovasi Digital dan Kecerdasan Buatan untuk Mempercepat Transformasi Digital Nasional” di Hotel Lombok Garden.
Manusia Menentukan Arah Transformasi
Ahsanul mengatakan perkembangan kecerdasan buatan, kemampuan komputasi, dan inovasi digital telah membawa dunia memasuki Revolusi Kecerdasan.
Pada fase itu, mesin tidak lagi hanya menjalankan perintah. Teknologi kini mampu belajar, mengenali pola, dan membantu manusia mengambil keputusan.
Namun, Ahsanul menegaskan teknologi hanya berfungsi sebagai sarana. Manusia tetap menjadi penentu keberhasilan transformasi.
“Teknologi hanyalah alat yang memungkinkan perubahan terjadi. Manusialah penggerak sesungguhnya dari transformasi. Karena itu, transformasi digital bukan proyek teknologi semata, melainkan perubahan cara berpikir, cara bekerja, cara melayani masyarakat, serta membangun kepemimpinan digital yang adaptif,” tegasnya.
Dalam pemerintahan, digitalisasi juga tidak cukup hanya memindahkan layanan manual ke aplikasi.
Sebaliknya, pemerintah harus memakai teknologi untuk meningkatkan transparansi, mempercepat pelayanan, dan menghasilkan keputusan berbasis data.
Pemprov Perkuat Data dan Keamanan Siber
Pemprov NTB terus mengembangkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik menuju Pemerintahan Digital.
Selain itu, pemerintah memperkuat Portal Satu Data NTB dan mengintegrasikan layanan digital antarlembaga.
Pemprov NTB juga bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara untuk meningkatkan keamanan siber. Sementara itu, NTB bersiap menjadi salah satu provinsi percontohan dalam penguatan sistem keamanan siber nasional.
“Kami ingin memastikan bahwa pengembangan pemerintahan digital tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga menjaga kedaulatan data, keamanan informasi, serta keberlanjutan layanan publik. Penguasaan sistem dan data harus tetap berada di tangan pemerintah demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ahsanul, kemajuan teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan.
Teknologi dapat mempercepat pembangunan. Namun, pemerintah dan masyarakat juga menghadapi ancaman keamanan siber, pelanggaran data pribadi, disinformasi, serta persoalan etika kecerdasan buatan.
Karena itu, pengembangan AI harus tetap mengutamakan nilai kemanusiaan dan tanggung jawab moral.
Kampus Harus Melahirkan Pencipta Teknologi
Ahsanul juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem inovasi nasional.
Menurutnya, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu memakai teknologi. Perguruan tinggi juga harus melahirkan talenta yang dapat menciptakan algoritma, membangun sistem, dan mengembangkan solusi bagi persoalan masyarakat.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar atau konsumen teknologi digital. Kita harus menjadi pencipta, pengembang, dan inovator teknologi yang mampu menghadirkan solusi bagi kebutuhan bangsa. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk melahirkan generasi yang mampu memimpin perkembangan teknologi secara bertanggung jawab,” katanya.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya kebijaksanaan manusia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
“Teknologi menentukan seberapa cepat kita melangkah. Kebijaksanaan menentukan ke mana kita melangkah. Karena itu, kemajuan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan etika, tanggung jawab, nilai-nilai Pancasila, dan semangat gotong royong agar benar-benar memberi manfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.
SENASTIF Perkuat Kolaborasi Digital
Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram Abdul Wahab membuka SENASTIF 2026.
Seminar juga menghadirkan Teddy Mantoro, I Gede Pasek Suta Wijaya, dan Media Anugerah Ayu sebagai narasumber.
Selain akademisi dan peneliti, kegiatan itu melibatkan praktisi teknologi informasi, dosen, mahasiswa, presenter, serta peserta dari berbagai daerah.
Abdul Wahab mengatakan SENASTIF menjadi ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi. Karena itu, ia berharap forum itu mendukung percepatan transformasi digital nasional.
Saat ini, Universitas Muhammadiyah Mataram memiliki delapan fakultas dan 38 program studi.
Sementara itu, Fakultas Teknik mengembangkan sejumlah program studi seperti Teknik Sipil, Teknik Pertambangan, Teknologi Informasi, dan Geologi.
Universitas juga tengah membangun gedung baru Fakultas Teknik untuk tahun akademik mendatang. Selain itu, kampus mengembangkan Rumah Sakit Universitas untuk memperkuat layanan pendidikan dan kesehatan.
SENASTIF 2026 melibatkan 60 peserta. Jumlah itu terdiri atas 18 presenter luring, 17 presenter daring, dan 25 peserta nonpresenter.
Melalui forum itu, kampus berharap karya ilmiah tidak berhenti sebagai publikasi. Sebaliknya, hasil penelitian harus berkembang menjadi inovasi yang menjawab tantangan pembangunan di era digital.










Komentar