Apa Itu Sembeq Buraq? Ritual Adat yang Akan Diterapkan bagi Pendaki Gunung Rinjani

Avatar photo

Jumat, 31 Juli 2026 - 14:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Sembeq Buraq

Ilustrasi Sembeq Buraq

LOMBOK TIMUR, ntbkita.com-Empat desa penyangga di Lombok Timur akan mewajibkan ritual Sembeq Buraq bagi pendaki jalur selatan Gunung Rinjani.

Aturan itu menyasar wisatawan mancanegara serta pendaki dari luar Pulau Lombok. Empat desa penggagasnya meliputi Jurit Baru, Pengadangan Barat, Timbanuh, dan Pengadangan.

Melalui ritual adat Sasak itu, pengelola ingin menjaga kelestarian kawasan Rinjani. Selain itu, desa penyangga ingin memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan pariwisata.

Ketua Pemuda Rinjani Selatan Amrul Arahap mengatakan pengelola telah memaparkan konsep itu kepada Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Ini konsepnya alam terjaga, budaya bermakna, masyarakat berdaya,” ujarnya.

Sembeq Buraq Menjadi Simbol Restu

Sembeq merupakan gerakan simbolis tokoh adat dengan menyentuh bagian tubuh seseorang. Tradisi itu mengandung makna restu, penerimaan, dan doa keselamatan.

Dalam ritual umum, tokoh adat mengoleskan bahan ritual pada kepala. Namun, tokoh adat akan mengoleskannya pada kedua kaki pendaki.

Prosesi itu melambangkan penguatan langkah secara fisik dan batiniah. Sementara itu, kata buraq membawa makna perjalanan suci.

Baca Juga :  Betabeq Awali MotoGP Mandalika 2026, Gubernur NTB Tekankan Peran Masyarakat Lokal

Karena itu, ritual Sembeq Buraq mengajak pendaki memandang perjalanan menuju Rinjani bukan sekadar rekreasi. Pendaki juga perlu memperbaiki niat sebelum memasuki kawasan gunung.

“Jadi sebelum melangkah ke Rinjani itu harus memperbaiki niatnya. Di ritual Sembeq Buraq itu nanti ketua adat akan menerangkan kepada wisatawan. Nanti tokoh adat akan mentaklik mana yang tidak boleh dilakukan di Rinjani,” tutur Amrul.

Tokoh Adat Bekali Pendaki

Dalam prosesi taklik, tokoh adat akan memberikan pembekalan kepada pendaki.

Pembekalan itu mencakup etika bertutur kata, tata krama, hukum adat, dan peraturan pemerintah. Selain itu, tokoh adat akan menjelaskan aturan pelestarian lingkungan.

Pendaki tidak boleh mencabut atau merusak spesies tumbuhan tertentu di sepanjang jalur. Dengan demikian, ritual adat juga menjadi sarana edukasi sebelum pendaki memulai perjalanan.

Amrul memastikan penerapan ritual tidak akan menambah biaya pendakian. Pengelola akan memasukkan seluruh prosesi ke dalam paket wisata.

Saat ini, pemerintah empat desa tengah menyusun peraturan desa bersama. Regulasi itu akan mengatur tata cara ritual dan penyediaan fasilitas pendukung.

Baca Juga :  Investor Kereta Gantung Rinjani Tak Lagi Berkomunikasi dengan Pemprov NTB

Warga Siapkan Tenun dan Penginapan

Selain menjaga alam dan budaya, pengelola ingin menggerakkan perekonomian masyarakat desa penyangga.

Warga akan memproduksi atribut ritual seperti kain tenun bermotif sekurdi. Kain itu akan menjadi penanda resmi bagi pendaki.

Selanjutnya, pengelola akan memanfaatkan rumah warga sebagai penginapan bagi wisatawan. Skema itu akan memberi ruang lebih besar bagi masyarakat dan pemuda untuk terlibat dalam aktivitas pariwisata.

“Kami sudah mengantisipasi hal-hal yang sifatnya substantif. Ini sikap kreativitas kami supaya masyarakat dan pemuda tidak hanya jadi penonton,” katanya.

Pengelola Urus Izin Operator Wisata

Pengelola kini memproses izin operator wisata kepada Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

Setelah empat desa mengesahkan peraturan bersama, pihak balai akan mengundang agen perjalanan. Sosialisasi itu akan membahas tata cara pendakian melalui jalur selatan.

Selanjutnya, agen perjalanan yang membawa wisatawan harus berkoordinasi dengan pengelola lokal. Koordinasi itu bertujuan memastikan pendaki mematuhi aturan adat serta menjaga kelestarian Gunung Rinjani.

Follow WhatsApp Channel ntbkita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Sejumlah Hotel di Senggigi Sudah Full Booking
Putri Mahkota Swedia Lepas Tukik di Gili Meno
Nonton MotoGP Mandalika Bisa Sambil Camping, ITDC Siapkan Tenda hingga Campervan
Festival Sangiang Api Bidik KEN 2027, Sampan Layar Jadi Andalan
Pemprov NTB Rancang Wisata Edukasi Sade untuk Jaga Ekonomi Warga
Mulud Adat Bayan Naik Panggung Nasional, Keaslian Tradisi Jangan Luntur
Festival Sangiang Api 2026 Angkat Jejak Maritim dan Warisan Pulau Sangiang
Pendaki Bukit Pergasingan Wajib Bawa Turun Sampah atau Deposit Hangus

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 05:10 WITA

Jelang MotoGP Mandalika 2026, Sejumlah Hotel di Senggigi Sudah Full Booking

Minggu, 6 September 2026 - 15:03 WITA

Putri Mahkota Swedia Lepas Tukik di Gili Meno

Minggu, 6 September 2026 - 09:02 WITA

Nonton MotoGP Mandalika Bisa Sambil Camping, ITDC Siapkan Tenda hingga Campervan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:26 WITA

Festival Sangiang Api Bidik KEN 2027, Sampan Layar Jadi Andalan

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 16:56 WITA

Pemprov NTB Rancang Wisata Edukasi Sade untuk Jaga Ekonomi Warga

Berita Terbaru