MATARAM, ntbkita.com-RSUD Provinsi NTB melakukan tindakan bypass STA-MCA untuk pertama kalinya pada dua pasien. Layanan bedah saraf kompleks ini memperluas kemampuan rumah sakit milik Pemprov NTB dalam menangani kasus yang sebelumnya berpotensi membutuhkan rujukan ke luar daerah.
Direktur Pelayanan Klinis Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI Obrin Parulian mengatakan, layanan bypass STA-MCA masih tersedia secara terbatas di Indonesia.
“Dari 38 provinsi, baru 11 provinsi yang memberikan layanan bypass STA-MCA ini. Kalau ini berkelanjutan dan rumah sakit sudah mandiri, berarti sudah setara dengan rumah sakit pengampu,” ujar Obrin di Mataram, Jumat (11/9).
RSUD Provinsi NTB membangun kemampuan itu secara bertahap melalui peningkatan kompetensi dokter dan tim medis, pendidikan lanjutan, fellowship, penyiapan fasilitas dan peralatan, serta pengampuan dari rumah sakit yang lebih dahulu menangani bypass otak.
Program proctorship menjadi bagian penting dari proses pengembangan layanan. Melalui program itu, tim RSUD NTB belajar langsung menangani kasus kompleks bersama para ahli.
Proctorship Libatkan RS PON dan RS Ngoerah
RSUD Provinsi NTB menjalankan Proctorship Bypass Otak pada 11–12 September 2026 bersama rumah sakit pengampu. Tim dari RS PON Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta dan RS Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah Bali ikut mendampingi proses tersebut.
Pendampingan mencakup persiapan tindakan, pengambilan keputusan klinis, pelaksanaan operasi, hingga pemantauan pasien setelah operasi.
Tim kemudian menerapkan kemampuan itu kepada dua pasien.
Pasien pertama merupakan anak berusia 12 tahun. Ia telah mengalami gejala sejak sekitar usia satu tahun berupa kelemahan pada satu sisi tubuh serta gangguan bicara dan kognitif.
Pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) menemukan penyempitan pembuluh darah otak. Tim medis mendiagnosis pasien mengalami Moyamoya.
Tim kemudian melakukan bypass untuk membantu membangun jalur aliran darah baru menuju otak. Tindakan itu bertujuan mengurangi risiko kekurangan suplai darah dan stroke berulang.
Pasien kedua berusia 42 tahun dan memiliki riwayat stroke iskemik dengan gangguan bicara serta kelemahan anggota gerak. Pemeriksaan menunjukkan gangguan suplai aliran darah ke otak. Tim memilih bypass untuk membantu memperbaiki aliran darah dan menekan risiko kejadian berulang.
Kemenkes Dorong Pemerataan Layanan
Obrin mengatakan, Kementerian Kesehatan terus mendorong pemerataan layanan kesehatan prioritas agar penanganan kasus berkompleksitas tinggi tidak hanya terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra.
Kemenkes mengharapkan setiap provinsi memiliki rumah sakit pemerintah yang mampu menyediakan layanan prioritas. Menurut Obrin, perkembangan RSUD Provinsi NTB bahkan telah bergerak melampaui target awal dari penyediaan layanan utama menuju kemampuan yang lebih paripurna.
Kemenkes juga mendukung kesiapan fasilitas dan peralatan, termasuk kebutuhan mikroskop serta perangkat bedah mikro. Sementara itu, jejaring rumah sakit pengampu terus membantu peningkatan kompetensi tim medis RSUD NTB.
Sekretaris Daerah NTB Abul Chair turut menyaksikan rangkaian proctorship di RSUD Provinsi NTB. Ia menilai pengembangan layanan kesehatan perlu menggabungkan teknologi medis dengan kemampuan sumber daya manusia.
“Bukan hanya ikannya, tetapi juga cara menangkap ikan dan bagaimana mengolahnya,” kata Abul Chair.
Pernyataan itu menggambarkan proses proctorship yang tidak hanya membantu pelaksanaan satu tindakan medis, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada tim RSUD Provinsi NTB.
RSUD NTB Siapkan Kemandirian Layanan
RSUD Provinsi NTB kini memiliki lima dokter spesialis bedah saraf. Rumah sakit juga terus meningkatkan kompetensi tenaga medis melalui pendidikan lanjutan, termasuk fellowship di Jepang.
Dengan dukungan Kemenkes dan jejaring rumah sakit pengampu, RSUD Provinsi NTB terus menguji dan memperkuat kemampuan tim hingga mampu menjalankan layanan bypass STA-MCA secara mandiri.
Pada tahap berikutnya, RSUD Provinsi NTB juga berpeluang mengambil peran sebagai rumah sakit pengampu bagi daerah lain setelah mencapai kemandirian layanan.
Pengembangan layanan itu memberi manfaat langsung bagi masyarakat NTB. Pasien dengan kasus berkompleksitas tinggi memiliki peluang memperoleh layanan lebih dekat tanpa harus mencari rujukan ke luar daerah.
Menurut keterangan Kemenkes dalam bahan yang disampaikan, pasien untuk layanan tertentu tidak perlu lagi menyeberang ke Bali atau pergi ke Makassar karena pelayanan mulai tersedia di ibu kota provinsi.
Pemprov NTB di bawah kepemimpinan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri terus membangun kapasitas RSUD Provinsi NTB melalui pengembangan sumber daya manusia, fasilitas, dan jejaring layanan. Proses itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan berkompleksitas tinggi di daerah.










Komentar